trump

Rencana rahasia anti-Iran oleh AS dan Israel baru-baru ini sepertinya tidak akan membawa mereka kemana-mana

Posted on

Rencana rahasia anti-Iran oleh AS dan Israel baru-baru ini sepertinya tidak akan membawa mereka kemana-mana

LAPORANAKTUAL.com –  Sementara Rusia berusaha untuk memindahkan Suriah dari panggung perang dan anarki berdarah ke dalam satu perdamaian, stabilitas dan rekonstruksi – dengan mengundang semua pihak ke konferensi Sochi bulan depan untuk menyetujui jalan damai termasuk sebuah konstitusi baru dan pemilihan presiden dan parlemen – AS dan Israel menyusun rencana untuk meledakkan wilayah tersebut dan terjun ke dalam perang baru dengan dalih untuk menghadapi ancaman Iran.

Channel 10 Israel telah mengungkapkan bahwa sebuah kesepakatan rahasia telah tercapai pada 12 Desember, menyusul pembicaraan antara penasihat keamanan nasional Israel Meir Ben-Shabbat dan rekannya dari AS, HR McMaster, kedua pihak melakukan tindakan dan merancang skenario melawan Iran di beberapa bidang. Hal ini dilaporkan bertujuan untuk membatasi kemampuan nuklir dan rudal Iran, menggulung kembali kehadirannya di Suriah, dan menghadapi sekutunya Hizbullah di Lebanon. Gedung Putih kemudian mengkonfirmasi adanya kesepakatan tersebut setelah berita tersebut dirilis oleh media.

Dua perkembangan besar diperkirakan akan terjadi di kawasan ini di tahun baru. Pertama, runtuhnya Negara Islam (IS) dan hilangnya sebagian besar wilayahnya di Suriah, dan kedua, kekalahan proyek Amerika di Suriah. Ini didasarkan pada penggunaan kelompok oposisi bersenjata untuk menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Asad, dan digagalkan oleh ketabahan tentara Arab Suriah, intervensi Rusia, dan dukungan dari sekutu seperti Iran dan Hizbullah, menempatkan Suriah di ambang batas fase baru rekonsiliasi dan pembaharuan nasional.

Dengan latar belakang ini, pemerintah AS saat ini khawatir pengaruhnya di wilayah tersebut meredup untuk kepentingan Rusia dan China dan kekuatan regional seperti Iran dan Turki. Negara pendudukan Israel, dikhawatirkan oleh kekuatan Hizbullah dan kemampuan militernya yang meningkat, dan kekhawatiran akan konsekuensi dari konflik yang muncul dari konflik Suriah.

Baik Saluran 10 maupun Gedung Putih tidak memberikan rincian rencana dan skenario yang dapat dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dan Hizbullah. Tapi jelas bahwa salah satu skenario ini adalah untuk mencoba menggoyahkan Iran dari dalam oleh gangguan rekayasa atau demonstrasi dan mengaktifkan sejumlah kelompok separatis bersenjata. Pangeran Mahkota Saudi, Muhammad Bin-Salman, salah satu sekutu terdekat Timur Tengah Trump, mengatakan secara terbuka dalam sebuah wawancara TV beberapa bulan yang lalu. Dia memperingatkan negaranya akan ‘mengambil perang di dalam Iran’ sebagai tindakan pre-emptive – yang berarti sebelum Iran mencoba untuk membawa ‘perang’ ke Arab Saudi. Tidak mengherankan jika demonstrasi yang diadakan pada hari Jumat di beberapa kota Iran sebagai protes atas inflasi sebagian merupakan produk strategi itu.

Sangat diragukan bahwa skema AS dan Israel untuk menghapus Iran dan pengaruhnya dari Suriah dan Lebanon akan memiliki banyak peluang untuk berhasil, kecuali jika membayangkan perang habis-habisan. Bahkan saat itu, ini akan menjadi pertaruhan berbahaya yang bisa menimbulkan bencana, terutama untuk negara pendudukan Israel. Jika rudal Patriot AS tidak dapat mencegat beberapa roket yang ditembakkan oleh pasukan Yaman terhadap kota-kota Saudi, sistem ‘Iron Dome’ Israel tidak mungkin melaju lebih baik melawan rudal Hizbullah yang lebih maju dan akurat, terutama jika mereka ditembakkan dalam jumlah ratusan , jika bukan ribuan, terhadap kota-kota Israel.

Ancaman Israel dan Amerika Serikat mungkin sama artinya dengan perang psikologis, atau bisa ditujukan untuk meyakinkan sekutu Arab mereka yang ketakutan dan mendorong mereka untuk menghabiskan puluhan miliar dolar lebih banyak untuk persenjataan Amerika. Begitulah, tahun depan mungkin terbukti sangat menakutkan bagi AS dan sekutu Israel-nya. Mereka mungkin mencoba keberuntungan mereka, tapi hasilnya pasti tidak sesuai dengan keinginan mereka. (LA/int/aba/ray/AK)

Saatnya Berpaling dan Tinggalkan AS

Posted on

Saatnya Berpaling dan Tinggalkan AS.jpg

LAPORANAKTUAL.com – Demikian memuakkannya langkah Israel dan Amerika Serikat atas status Jerusalem, perlawanan yang konsisten menjadi keharusan. Selama penindasan dipertontonkan, selama itu pula kita sebagai bangsa yang merdeka harus berani bersikap.

Ketika penindasan itu kian jumawa, kian keras pula kita harus bersuara. Kejumawaan tidak beradab pula yang kini semakin ditunjukkan Israel dan AS. Alih-alih mendengarkan protes dunia, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan yakin bahwa negara-negara lain akan mengikuti langkah sekutu dekatnya untuk memindahkan kedutaan besar mereka ke Jerusalem.

Tidak hanya itu, militer Israel pun mengumumkan pengerahan kekuatan tambahan ke wilayah Tepi Barat. Langkah itu disebut sebagai bagian dari persiapan untuk pengembangan lanjutan. Bualan ataupun sungguhan, Israel telah menggenapkan sikap pelecehannya terhadap upaya perdamaian. AS ibarat ikut menari mengiringinya.

Dengan perkembangan itu, tidak sepantasnya pemerintah berdiam diri atau bertahan dengan kecaman-kecaman yang sudah dilontarkan. Seperti juga melawan api yang kian besar, air harus lebih banyak digelontorkan. Respons atas langkah jumawa baru Israel dan AS sesungguhnya dapat berkaca pada seruan Presiden Arab Inter-Parliamentary Union (AIPU), Nahib Berri, pada Maret lalu.

Berri yang juga juru bicara Parlemen Libanon mengajak negara-negara muslim bersatu dengan menutup kedutaan besar mereka di AS. Saat itu, rencana Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan kedutaan ke Jerusalem memang telah terdengar. Berri menekankan bahwa sesungguhnya penutupan kedutaan negara-negara muslim di AS itu pun hanya merupakan langkah minimal karena nyata-nyata AS dan Israel tidak menggubris kecaman-kecaman yang berulang kali disampaikan.

Langkah tegas diplomatik lewat penutupan kedutaan besar itu semestinya pantas menjadi salah satu pilihan yang akan dibahas dalam sidang Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Rabu (13/12) di Istanbul, Turki. Indonesia harus berada di barisan paling depan dalam meninjau ulang hubungan diplomatik dengan AS.

Meski efektivitas penutupan kedutaan masih bisa dipertentangkan, persatuan negara-negara muslim memang mutlak diperlukan. Bahkan sesungguhnya sikap ini merupakan sikap pantas dari negara-negara lainnya tanpa mengacu pada dasar agama. Itu karena perjuangan yang dilakukan sesungguhnya bukan pula dari segi agama semata, melainkan perjuangan kemerdekaan dan hak asasi manusia.

Sikap bersama itu akan menjadi pesan kuat kepada AS dan Israel atas kekuatan persatuan dunia. Terlebih ancaman dari langkah Israel dan AS saat ini bukan tidak mungkin kian menjadi-jadi di masa mendatang. Ketika wilayah suci tiga agama monoteistik saja bisa mereka monopoli, hal-hal hakiki lainnya pun mudah mereka langkahi. (LA/int/mediaindonesia/AK)

Sikap Donald Trump soal Yerusalem Karena Miliarder Israel?

Posted on

Sikap Donald Trump soal Yerusalem Karena Miliarder Israel
Presiden AS, Donald Trump mengunjungi Tembok Ratapan, tempat suci milik kaum Yahudi, di Yerusalem, Senin (22/5). Trump menatap sesaat tembok itu sebelum akhirnya memasukkan sebuah catatan di antara batu-batu monumental tersebut. (AP Photo/Evan Vucci)

LAPORANAKTUAL.com, Washington DC – Pertengahan pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia juga berencana akan memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Al Quds Al Sharif (bahasa Arab untuk Yerusalem).

Sangat kontroversial memang sikap yang diambil olehnya. Mengingat, belum pernah ada orang nomor satu Negeri Paman Sam yang pernah melakukan pengakuan semacam itu, terutama sejak 1995 ketika AS menetapkan kebijakan tersebut. Namun, Trump memiliki argumentasi tersendiri, bahwa pengakuan itu, tak lain dan tak bukan adalah sebuah “kenyataan diplomatik” atas status pemerintahan Israel.

“Pengakuan ini, tak lain dan tak bukan didasari sebuah kenyataan dan sebuah langkah yang benar untuk dilakukan,” kata Trump pada Rabu lalu.

Melengkapi penjelasan tersebut, Duta Besar AS untuk RI, Joseph Donovan pun berkomentar. “Presiden (Trump) merasa, adalah fakta bahwa banyak lembaga pemerintahan besar Israel berlokasi di Yerusalem,” paparnya usai bertemu Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi Rabu kemarin.

Akan tetapi, menurut sejumlah laporan, langkah yang diambil Trump sebenarnya tidak didasari oleh alasan diplomatik.

Keputusan itu berlandaskan pada motif ideologi dan ekonomi. Demikian seperti dikutip News.com.au, Jumat (8/12/2017).

Media ternama asal Amerika Serikat, Time mengungkap, 10 hari sebelum Donald Trump disumpah sebagai presiden, ia dikabarkan sempat bertemu Sheldon Adelson — orang tajir kelas kakap, pemilik bisnis kasino sekaligus penyokong dana utama untuk Partai Republik dan kelompok pro Israel.

Time melanjutkan, usai Trump bertemu dengan Adelson, bos kasino itu kemudian menelepon temannya Morton A Klein. Ia mengatakan bahwa sang Presiden Terpilih menjadikan pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai sebuah prioritas.

Klein, simpatisan Israel dan Presiden Zionist Organization of America itu, dilaporkan sangat gembira mendengar kabar tersebut.

Dari laporan tersebut, kini muncul dugaan bahwa sikap yang diambil Presiden Trump terkait Yerusalem pada pekan ini, tak lepas dari pengaruh Adelson dan Klein.

Namun, mengapa kedua orang itu diduga memiliki pengaruh terhadap langkah Trump?

Donor Utama Raksasa

Sheldon Adelson, orang tajir kelas kakap. Ia merupakan penyumbang dana utama bagi Partai Republik — yang menyokong Presiden Donald Trump — dan kelompok pro Israel.

Ia juga dilaporkan sebagai salah satu pendonor dana kampanye Donald Trump kala mengikuti Pilpres AS 2016 lalu.

Jaringan politik Adelson dikabarkan juga cukup signifikan. Bahkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Wakil Presiden AS Mike Pence — yang diketahui sebagai pendukung pro Israel — dilaporkan menjadi sejumlah figur pejabat yang masuk dalam jaringan politik Adelson.

Pengaruh politik semacam itulah yang membuat Adelson mampu memengaruhi Trump untuk memprioritaskan agenda seputar Israel, salah satunya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Negeri Bintang David itu.

Trump, saat masih berstatus sebagai Capres AS dan sebelum mulai menjalin hubungan ekstensif dengan Adelson, mengisyaratkan sikap yang netral dan terlalu memperhatinkan isu Israel.

Ketika ditanya apakah Yerusalem secara utuh merupakan ibu kota Israel, Trump menjawab, “Saya harus bertemu dulu dengan Bibi (Benjamin Netanyahu) terlebih dahulu.”

Namun, ketika persaingan Pilpres AS 2016 semakin ketat dan hubungan dengan Adelson semakin dekat, Trump mulai garang mendukung agenda kelompok pro Israel.

Adelson, selama kurun waktu tersebut, dikabarkan intens menjalin sambungan telepon dengan Trump. Dalam sambungan itu, sang bos kasino intens mendorong isu pro Israel kepada sang capres AS.  (LA/int/liputan6/AK)

 

McCain: Tindakan Trump di Suriah Untungkan Rusia

Posted on Updated on

LAPORANAKTUAL.com – Senator senior Amerika Serikat, John McCain mengatakan pemerintahan Donald Trump sama sekali tidak punya strategi yang jelas di Afghanistan dan Suriah.

Seperti dilansir media Kongres AS, The Hill, McCain pada hari Kamis (20/7/2017) mengkritik Trump setelah ia membatalkan program CIA untuk mempersenjatai kelompok bersenjata Suriah.

“Tindakan Trump sepenuhnya menguntungkan Rusia,” tegasnya.

Dia juga mengkritik pemerintahan Trump karena tidak mempresentasikan strategi baru untuk perang di Afghanistan.

“Pemerintah sebelumnya berjanji akan menyerahkan strategi baru ke Kongres pada pertengahan Juli dan sampai sekarang tidak ada kabarnya,” kata McCain.

Pada hari Kamis, para pejabat Amerika mengatakan Dinas Intelijen Pusat (CIA) akan menghentikan program dukungan kepada kelompok-kelompok bersenjata Suriah.

“Pemerintahan Trump memutuskan untuk menghentikan program CIA mempersenjatai dan melatih kelompok-kelompok teroris yang sedang berperang melawan pemerintah Suriah,” kata mereka.

Dukungan CIA kepada para teroris di Suriah dilakukan sejalan dengan upaya pemerintah Barack Obama untuk menggulingkan pemerintahan konstitusional Suriah. (LA/int/AK)