quds

Saatnya Berpaling dan Tinggalkan AS

Posted on

Saatnya Berpaling dan Tinggalkan AS.jpg

LAPORANAKTUAL.com – Demikian memuakkannya langkah Israel dan Amerika Serikat atas status Jerusalem, perlawanan yang konsisten menjadi keharusan. Selama penindasan dipertontonkan, selama itu pula kita sebagai bangsa yang merdeka harus berani bersikap.

Ketika penindasan itu kian jumawa, kian keras pula kita harus bersuara. Kejumawaan tidak beradab pula yang kini semakin ditunjukkan Israel dan AS. Alih-alih mendengarkan protes dunia, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan yakin bahwa negara-negara lain akan mengikuti langkah sekutu dekatnya untuk memindahkan kedutaan besar mereka ke Jerusalem.

Tidak hanya itu, militer Israel pun mengumumkan pengerahan kekuatan tambahan ke wilayah Tepi Barat. Langkah itu disebut sebagai bagian dari persiapan untuk pengembangan lanjutan. Bualan ataupun sungguhan, Israel telah menggenapkan sikap pelecehannya terhadap upaya perdamaian. AS ibarat ikut menari mengiringinya.

Dengan perkembangan itu, tidak sepantasnya pemerintah berdiam diri atau bertahan dengan kecaman-kecaman yang sudah dilontarkan. Seperti juga melawan api yang kian besar, air harus lebih banyak digelontorkan. Respons atas langkah jumawa baru Israel dan AS sesungguhnya dapat berkaca pada seruan Presiden Arab Inter-Parliamentary Union (AIPU), Nahib Berri, pada Maret lalu.

Berri yang juga juru bicara Parlemen Libanon mengajak negara-negara muslim bersatu dengan menutup kedutaan besar mereka di AS. Saat itu, rencana Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan kedutaan ke Jerusalem memang telah terdengar. Berri menekankan bahwa sesungguhnya penutupan kedutaan negara-negara muslim di AS itu pun hanya merupakan langkah minimal karena nyata-nyata AS dan Israel tidak menggubris kecaman-kecaman yang berulang kali disampaikan.

Langkah tegas diplomatik lewat penutupan kedutaan besar itu semestinya pantas menjadi salah satu pilihan yang akan dibahas dalam sidang Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Rabu (13/12) di Istanbul, Turki. Indonesia harus berada di barisan paling depan dalam meninjau ulang hubungan diplomatik dengan AS.

Meski efektivitas penutupan kedutaan masih bisa dipertentangkan, persatuan negara-negara muslim memang mutlak diperlukan. Bahkan sesungguhnya sikap ini merupakan sikap pantas dari negara-negara lainnya tanpa mengacu pada dasar agama. Itu karena perjuangan yang dilakukan sesungguhnya bukan pula dari segi agama semata, melainkan perjuangan kemerdekaan dan hak asasi manusia.

Sikap bersama itu akan menjadi pesan kuat kepada AS dan Israel atas kekuatan persatuan dunia. Terlebih ancaman dari langkah Israel dan AS saat ini bukan tidak mungkin kian menjadi-jadi di masa mendatang. Ketika wilayah suci tiga agama monoteistik saja bisa mereka monopoli, hal-hal hakiki lainnya pun mudah mereka langkahi. (LA/int/mediaindonesia/AK)

Sikap Donald Trump soal Yerusalem Karena Miliarder Israel?

Posted on

Sikap Donald Trump soal Yerusalem Karena Miliarder Israel
Presiden AS, Donald Trump mengunjungi Tembok Ratapan, tempat suci milik kaum Yahudi, di Yerusalem, Senin (22/5). Trump menatap sesaat tembok itu sebelum akhirnya memasukkan sebuah catatan di antara batu-batu monumental tersebut. (AP Photo/Evan Vucci)

LAPORANAKTUAL.com, Washington DC – Pertengahan pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia juga berencana akan memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Al Quds Al Sharif (bahasa Arab untuk Yerusalem).

Sangat kontroversial memang sikap yang diambil olehnya. Mengingat, belum pernah ada orang nomor satu Negeri Paman Sam yang pernah melakukan pengakuan semacam itu, terutama sejak 1995 ketika AS menetapkan kebijakan tersebut. Namun, Trump memiliki argumentasi tersendiri, bahwa pengakuan itu, tak lain dan tak bukan adalah sebuah “kenyataan diplomatik” atas status pemerintahan Israel.

“Pengakuan ini, tak lain dan tak bukan didasari sebuah kenyataan dan sebuah langkah yang benar untuk dilakukan,” kata Trump pada Rabu lalu.

Melengkapi penjelasan tersebut, Duta Besar AS untuk RI, Joseph Donovan pun berkomentar. “Presiden (Trump) merasa, adalah fakta bahwa banyak lembaga pemerintahan besar Israel berlokasi di Yerusalem,” paparnya usai bertemu Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi Rabu kemarin.

Akan tetapi, menurut sejumlah laporan, langkah yang diambil Trump sebenarnya tidak didasari oleh alasan diplomatik.

Keputusan itu berlandaskan pada motif ideologi dan ekonomi. Demikian seperti dikutip News.com.au, Jumat (8/12/2017).

Media ternama asal Amerika Serikat, Time mengungkap, 10 hari sebelum Donald Trump disumpah sebagai presiden, ia dikabarkan sempat bertemu Sheldon Adelson — orang tajir kelas kakap, pemilik bisnis kasino sekaligus penyokong dana utama untuk Partai Republik dan kelompok pro Israel.

Time melanjutkan, usai Trump bertemu dengan Adelson, bos kasino itu kemudian menelepon temannya Morton A Klein. Ia mengatakan bahwa sang Presiden Terpilih menjadikan pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai sebuah prioritas.

Klein, simpatisan Israel dan Presiden Zionist Organization of America itu, dilaporkan sangat gembira mendengar kabar tersebut.

Dari laporan tersebut, kini muncul dugaan bahwa sikap yang diambil Presiden Trump terkait Yerusalem pada pekan ini, tak lepas dari pengaruh Adelson dan Klein.

Namun, mengapa kedua orang itu diduga memiliki pengaruh terhadap langkah Trump?

Donor Utama Raksasa

Sheldon Adelson, orang tajir kelas kakap. Ia merupakan penyumbang dana utama bagi Partai Republik — yang menyokong Presiden Donald Trump — dan kelompok pro Israel.

Ia juga dilaporkan sebagai salah satu pendonor dana kampanye Donald Trump kala mengikuti Pilpres AS 2016 lalu.

Jaringan politik Adelson dikabarkan juga cukup signifikan. Bahkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Wakil Presiden AS Mike Pence — yang diketahui sebagai pendukung pro Israel — dilaporkan menjadi sejumlah figur pejabat yang masuk dalam jaringan politik Adelson.

Pengaruh politik semacam itulah yang membuat Adelson mampu memengaruhi Trump untuk memprioritaskan agenda seputar Israel, salah satunya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Negeri Bintang David itu.

Trump, saat masih berstatus sebagai Capres AS dan sebelum mulai menjalin hubungan ekstensif dengan Adelson, mengisyaratkan sikap yang netral dan terlalu memperhatinkan isu Israel.

Ketika ditanya apakah Yerusalem secara utuh merupakan ibu kota Israel, Trump menjawab, “Saya harus bertemu dulu dengan Bibi (Benjamin Netanyahu) terlebih dahulu.”

Namun, ketika persaingan Pilpres AS 2016 semakin ketat dan hubungan dengan Adelson semakin dekat, Trump mulai garang mendukung agenda kelompok pro Israel.

Adelson, selama kurun waktu tersebut, dikabarkan intens menjalin sambungan telepon dengan Trump. Dalam sambungan itu, sang bos kasino intens mendorong isu pro Israel kepada sang capres AS.  (LA/int/liputan6/AK)