jad

Selidiki Kematian Bahrun Naim, Polri Koordinasi dengan Interpol

Posted on Updated on

Selidiki Kematian Bahrun Naim, Polri Koordinasi dengan Interpol

LAPORANAKTUAL.com, Jakarta –  Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Komisaris Besar Martinus Sitompul menuturkan, dalam memastikan kabar kematian tokoh ISIS, Bahrun Naim, Polri berkoordinasi dengan banyak pihak. Di antaranya, Polri berkoordinasi dengan The International Criminal Police Organization (Interpol) dan Kepolisian Suriah.

Martinus mengatakan, Mengingat, Indonesia juga memiliki hubungan diplomatik dengan Suriah, Polri mencari informasi melalui interpol melalui atase kepolisian yang ada di Turki dan Suriah.

Untuk mendalami informasi tersebut, Polri masih melakukan komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri, khususnya Direktorat Jenderal perlindungan warga negara Indonesia.

“Dalam hal ini akan dilakukan sebuah kerjasama untuk bisa mendapatkan informasi yang akurat dalam hal-hal yang biasa dilakukan oleh negara-negara yang terkait dengan kegiatan di Suriah,” kata Martinus di Markas Besar Polri, Senin (4/11).

Sebelumnya, berita tewasnya Bahrun Naim tersebar melalui tangkapan layar (screenshot) sebuah grup percakapan aplikasi Telegram yang tersebar di media sosial. Informasi tersebut pun masih didalami oleh Polri.

“Ini termasuk sebuah pendalaman kita terhadap media sosial yang siapa yang mengawali penyebaran informasi ini, sehingga kita bisa ketahui dari sumbernya apa,” kata Martinus.

Selama ini Bahrun Naim sering dikaitkan dengan kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah.

Dirinya juga disinyalir merupakan orang yang menggugah video kelompok jaringan MIT melalui akun Facebook bernama Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo.

Sepak terjang Bahrun Naim tereendus sejak 2010. Pada saat itu, tanggal 9 November 2010, Ia ditangkap oleh Densus 88 setelah kedapatan menyimpan 533 butir peluru laras panjang kaliber 7.62 mm, dan 31 butir peluru kaliber 9 mm.

Atas perbuatannya tersebut, Bahrun Naim diputuskan bersalah oleh Pengadilan Negeri Surakarta dan dijatuhi hukuman penjara selama 2 tahun.

Bahrun Naim juga disebut sebagai dalang aksi teror bom Thamrin, Jakarta Pusat, pada Januari 2016. Bahrun yang kerap disebut sebagai pimpinan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ini merekrut sejumlah teroris dari Indonesia.

Bahrun juga kerap mengajarkan cara membuat bom melalui grup-grup Telegram internal teroris. Selain itu, Naim sering dikaitkan dengan kelompok jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso. (LA/bamed/AK)