Internasional

Dialog dan Kerjasama adalah Kebutuhan Darurat Dunia Hari ini

Posted on

 

LAPORANAKTUAL.co, – Utusan khusus Presiden Republik Indonesia untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Prof. DR. Din Syamsuddin dalam pidatonya dalam acara pembukaan International Conference of Asian Cultural Dialogues yang berlangsung di Tehran ibukota Republik Islam Iran pada Sabtu (13/1) mengatakan, “Hari ini, dunia dan peradaban manusia sedang berhadapan dengan tantangan berat. Sebagaimana yang dikatakan Francis Fukuyama, akan terjadi benturan peradaban yang akan menimbulkan ketidak teraturan dan melahirkan kekhawatiran besar.”

“Ketidakmampuan budaya-budaya yang ada disetiap negara dan pemimpin-pemimpin negara berhadapan dengan tantangan berat tersebut, membuat munculnya berbagai kerusakan besar di dunia hari ini.” Tambahnya.

“Karena itu, pekerjaan utama kita hari ini adalah bagaimana sistem global yang berpusat pada manusia kita ubah dan beralih kepada sistem global yang berpusat pada Tuhan.” Lanjuta mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut.

Lebih lanjut lagi, dewan pembina MUI tersebut mengatakan, “Dialog antar komunitas, antara penganut agama, antar negara, antar peradaban, adalah sebuah langkah yang harus dikerjakan dan digalakkan. Dialog ini harus didasarkan pada paradigma saling percaya dan saling menghormati untuk menciptakan peradaban yang penuh dengan kedamaian dan kebersamaan.”

Din Syamsuddin menegaskan, dengan terbentuknya sikap saling memahami dan kesatuan pandangan akan menjadi modal kuat untuk mengatasi tantangan berat peradaban manusia hari ini. Ia mengatakan, “Melalui majelis dialog yang kita lakukan hari ini, kita optimis, akan menghasilkan langkah-langkah praktis yang akan kita lakukan bersama-sama sehingga dengan strategi budaya yang kita kerjakan, dalam bidang ekonomipun insya Allah akan mengalami peningkatan.”

Disebutkan International Conference of Asian Cultural Dialogues atau Konferensi Internasional Dialog Budaya Asia terselenggara di Tehran pada Sabtu (13/1). Hadir Sayid Abbas Salehi, menteri kebudayaan Iran, Mahmud Jawad Zarif, menteri luar negeri Iran, dan lebih dari 70 ilmuan dan cendekiawan kebudayaan dari 20 negara. Acara ini kemudian akan dilanjutkan dan berlangsung di Universitas Tehran, Universitas Ferdawsi Masyhad dan di Mazandaran. (LA/int/AK)

Dalang Kerusuhan di Iran Telah Diidentifikasi dan Ditangkap

Posted on Updated on

Dalang Kerusuhan di Iran Telah Diidentifikasi dan Ditangkap.jpg

LAPORANAKTUAL.com, Para oknum dalang di balik gelombang kerusuhan terbaru  ini di sejumlah kota di Iran telah diidentifikasi dan ditangkap. Hal itu dikemukakan, komandan polisi Iran, Saeed Montazer-al-Mahdi yang mengatakan pada hari Ahad (7/1/2018) bahwa beberapa “elemen yang terjebak” dan “perusuh” yang melanggar ketertiban negara serta merusak properti pribadi dan publik telah ditangani.

Di antara yang ditahan, adalah mereka yang tidak menghormati bendera nasional Iran dan mengarahkan sebuah kendaraan pemadam kebakaran ke arah kerumunan warga di kota Doroud, yang menewaskan seorang ayah dan anaknya.

Sebanyak 20 orang, termasuk seorang polisi, tewas mereka dalam gelombang kekerasan tersebut.

Mereka yang ditahan diserahkan kepada pengadilan yang telah membebaskan sebagian besar dari mereka, dan hanya menahgan para dalang dan pelaku kerusuhan. (LA/int/AK)

Rencana rahasia anti-Iran oleh AS dan Israel baru-baru ini sepertinya tidak akan membawa mereka kemana-mana

Posted on

Rencana rahasia anti-Iran oleh AS dan Israel baru-baru ini sepertinya tidak akan membawa mereka kemana-mana

LAPORANAKTUAL.com –  Sementara Rusia berusaha untuk memindahkan Suriah dari panggung perang dan anarki berdarah ke dalam satu perdamaian, stabilitas dan rekonstruksi – dengan mengundang semua pihak ke konferensi Sochi bulan depan untuk menyetujui jalan damai termasuk sebuah konstitusi baru dan pemilihan presiden dan parlemen – AS dan Israel menyusun rencana untuk meledakkan wilayah tersebut dan terjun ke dalam perang baru dengan dalih untuk menghadapi ancaman Iran.

Channel 10 Israel telah mengungkapkan bahwa sebuah kesepakatan rahasia telah tercapai pada 12 Desember, menyusul pembicaraan antara penasihat keamanan nasional Israel Meir Ben-Shabbat dan rekannya dari AS, HR McMaster, kedua pihak melakukan tindakan dan merancang skenario melawan Iran di beberapa bidang. Hal ini dilaporkan bertujuan untuk membatasi kemampuan nuklir dan rudal Iran, menggulung kembali kehadirannya di Suriah, dan menghadapi sekutunya Hizbullah di Lebanon. Gedung Putih kemudian mengkonfirmasi adanya kesepakatan tersebut setelah berita tersebut dirilis oleh media.

Dua perkembangan besar diperkirakan akan terjadi di kawasan ini di tahun baru. Pertama, runtuhnya Negara Islam (IS) dan hilangnya sebagian besar wilayahnya di Suriah, dan kedua, kekalahan proyek Amerika di Suriah. Ini didasarkan pada penggunaan kelompok oposisi bersenjata untuk menggulingkan rezim Presiden Bashar al-Asad, dan digagalkan oleh ketabahan tentara Arab Suriah, intervensi Rusia, dan dukungan dari sekutu seperti Iran dan Hizbullah, menempatkan Suriah di ambang batas fase baru rekonsiliasi dan pembaharuan nasional.

Dengan latar belakang ini, pemerintah AS saat ini khawatir pengaruhnya di wilayah tersebut meredup untuk kepentingan Rusia dan China dan kekuatan regional seperti Iran dan Turki. Negara pendudukan Israel, dikhawatirkan oleh kekuatan Hizbullah dan kemampuan militernya yang meningkat, dan kekhawatiran akan konsekuensi dari konflik yang muncul dari konflik Suriah.

Baik Saluran 10 maupun Gedung Putih tidak memberikan rincian rencana dan skenario yang dapat dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dan Hizbullah. Tapi jelas bahwa salah satu skenario ini adalah untuk mencoba menggoyahkan Iran dari dalam oleh gangguan rekayasa atau demonstrasi dan mengaktifkan sejumlah kelompok separatis bersenjata. Pangeran Mahkota Saudi, Muhammad Bin-Salman, salah satu sekutu terdekat Timur Tengah Trump, mengatakan secara terbuka dalam sebuah wawancara TV beberapa bulan yang lalu. Dia memperingatkan negaranya akan ‘mengambil perang di dalam Iran’ sebagai tindakan pre-emptive – yang berarti sebelum Iran mencoba untuk membawa ‘perang’ ke Arab Saudi. Tidak mengherankan jika demonstrasi yang diadakan pada hari Jumat di beberapa kota Iran sebagai protes atas inflasi sebagian merupakan produk strategi itu.

Sangat diragukan bahwa skema AS dan Israel untuk menghapus Iran dan pengaruhnya dari Suriah dan Lebanon akan memiliki banyak peluang untuk berhasil, kecuali jika membayangkan perang habis-habisan. Bahkan saat itu, ini akan menjadi pertaruhan berbahaya yang bisa menimbulkan bencana, terutama untuk negara pendudukan Israel. Jika rudal Patriot AS tidak dapat mencegat beberapa roket yang ditembakkan oleh pasukan Yaman terhadap kota-kota Saudi, sistem ‘Iron Dome’ Israel tidak mungkin melaju lebih baik melawan rudal Hizbullah yang lebih maju dan akurat, terutama jika mereka ditembakkan dalam jumlah ratusan , jika bukan ribuan, terhadap kota-kota Israel.

Ancaman Israel dan Amerika Serikat mungkin sama artinya dengan perang psikologis, atau bisa ditujukan untuk meyakinkan sekutu Arab mereka yang ketakutan dan mendorong mereka untuk menghabiskan puluhan miliar dolar lebih banyak untuk persenjataan Amerika. Begitulah, tahun depan mungkin terbukti sangat menakutkan bagi AS dan sekutu Israel-nya. Mereka mungkin mencoba keberuntungan mereka, tapi hasilnya pasti tidak sesuai dengan keinginan mereka. (LA/int/aba/ray/AK)

Dubes Uni Eropa pastikan negara Eropa sepakat kecam AS tentang status Yerusalem

Posted on

dubes-uni-eropa-pastikan-negara-eropa-satu-suara-kecam-as-soal-status-yerusalem.jpg
Palestina makin mencekam usai pengakuan trump. ©2017 REUTERS/Mohamad Torokman

LAPORANAKTUAL.com – Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend membantah pernyataan beberapa media asing yang mengatakan ada beberapa negara anggota UE yang diam-diam mendukung pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai status kota Yerusalem.

Dia menegaskan UE berada di posisi yang sama dengan Indonesia terkait masalah Yerusalem.

“Seluruh negara Uni Eropa sepakat mengambil satu suara yang sama, yakni mengecam pengakuan AS perihal status Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dalam hal ini, kami berada di pihak yang sama dengan Indonesia,” kata Guerend saat menggelar jumpa pers di kediamannya, di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Selasa (14/12).

Sama dengan Indonesia, Guerend pun menyatakan bahwa UE mendukung Solusi Dua Negara diterapkan oleh Palestina dan Israel untuk menyelesaikan krisis Yerusalem ini.

“Kami menilai bahwa Palestina berhak untuk menjadi negara merdeka, berdaulat, dan memiliki kekuasaan untuk menentukan nasib dan kesejahteraan mereka,” katanya. (LA/int/merdeka/AK)

Presiden Jokowi mendesak anggota OKI agar bulat mendukung Palestina

Posted on

Presiden Jokowi desak anggota OKI agar bulat mendukung Palestina 1.jpg
Keputusan Trump menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, memicu unjuk rasa di kawasan Palestina.

LAPORANAKTUAL.com, Presiden Joko Widodo di Istanbul, Turki, akan berupaya membulatkan suara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) terkait pembelaan terhadap Palestina.

Presiden Jokowi kepada para wartawan di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, sebelum berangkat ke Istanbul, mengatakan “Ini adalah kesempatan pertama bagi negara-negara OKI untuk secara bersama dan tegas menolak keputusan Presiden Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.”

Dipimpin oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, KTT Luar Biasa OKI akan dimulai di Istanbul, Rabu (23/12), untuk khusus membahas keputusan sepihak Presiden Donald Trump yang menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Langkah Trump mengundang kecaman internasional karena status Yerusalem -berdasarkan Kesepakatan Oslo tahun 1993- ditunda hingga berlangsungnya perundingan status permanen di kemudian hari.

Bagaimanapun tampaknya tak semua negara, termasuk beberapa negara Timur Tengah, yang mengungkapkan kecaman keras atas keputusan Trump tersebut, yang memicu unjuk rasa jalanan di berbagai tempat dunia.

Bahkan di dalam OKI sendiri para pengamat mengatakan bisa terlihat bahwa Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab sebenarnya berlaku lunak terhadap Amerika Serikat.

“Karena mereka melihat masalah Palestina telah menjadi beban. Di satu pihak mereka ingin berhubungan dengan Israel untuk menghadapi Iran di Timur Tengah. Tapi di pihak lain, ada ganjalan isu Palestina karena tidak memungkinkan bagi mereka menjalin hubungan resmi dengan Israel selama masalah Palestina belum terselesaikan,” jelas Smith Al Hadar dari ISMES atau Indonesian Society for Middle East Studies .

Bagaimanapun Al Hadar menegaskan bahwa bukan berarti bahwa pesan Indonesia tidak akan bergema sama sekali di OKI, sebuah organisasi yang beranggotakan 57 negara Islam namun didominasi oleh negara-negara Arab. “Kita tidak bisa lupa ada Iran dan Turki yang sepandangan dengan Indonesa, sehingga posisi Indonesia nanti cukup kuat, sebagai negara (berpenduduk) Islam terbesar di dunia, bersama Iran dan Turki, yang juga merupakan kekuatan di Timur Tengah.”

Presiden Jokowi desak anggota OKI agar bulat mendukung Palestina 2.jpg
Kesepakatan Oslo menunda keputusan tentang status Yerusalem hingga tahap perundingan permanen kelak.

Upaya Indonesia di KTT OKI Istanbul ini juga diakui tidak mudah oleh Hamdan Basyar, pengamat Timur Tengah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI.

“OKI terdiri dari bermacam-macam negara yang kebanyakan di Timur Tengah dan di Timur Tengah sendiri memang ada kecaman namun ‘ adem ayem ‘, terutama Arab Saudi. Dan Jokowi, atau Indonesia yang punya komitmen panjang terhadap Palestina, berupaya di pertemuan OKI ini. Supaya ada solusi yang cukup menyeluruh tentang Yerusalem ini.”

Apalagi sejauh ini sudah ada yang disebut sebagai Komite Yerusalem atau Komite Al Quds, yang keberadaan dan perannya bisa didorong kembali oleh Indonesia di Istanbul.

“Betul memang negara-negara di Timur Tengah dan Teluk ada permasalahan sendiri, tapi kalau dilihat di OKI bisa ditarik ke sana (Komite Al Quds). Memang tidak mudah tapi Indonesia sepertinya mengambil langkah mau memimpin.”

Di sisi lain, OKI sendiri masih belum mempunyai posisi yang cukup kuat untuk menekan pemerintah Amerika Serikat, yang sejauh ini memilih untuk memperkuat posisi Israel dalam konflik dengan Palestina.

Menurut Al Hadar, OKI pada satu sisi mungkin memerlukan kerja sama dengan negara-negara besar dunia lain, bukan saja agar tekanannya lebih bermakna bagi pemerintahan Presiden Trump, juga untuk mencegah mereka kelak mengikuti langkah Trump.

“Negara-negara penting dunia seperti Inggris dan Prancis yang merupakan Dewan Keamanan PBB masih belum mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bukan tidak mungkin ke depan mereka juga mengakui Yerusalem dan dengan demikan peluang Palestina untuk mendapat Yerusalem Timur sebagai ibu kota akan hilang.”

“Kalau cuma berdasarkan suara OKI saja, saya rasa tidak akan cukup berpengaruh…,” tegas Al Hadar.

Hingga Selasa (12/12) atau sehari menjelang KTT Luar Biasa OKI, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, mengatakan masih belum jelas apakah Arab Saudi akan datang ke Istanbul atau tidak sementara Uni Emirat Arab dan Mesir hanya akan mengirim menteri luar negeri.

Selain Presiden Joko Widodo, beberapa pemimpin negara OKI yang sudah memastikan hadir, antara lain adalah PM Pakistan, Shahid Khaqan Abbasi, juga Emir Kuwait, Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, dan Emir Tamim bin Hamad Al Thani dari Qatar, serta Raja Yordania, Abdullah II.

Yang juga akan hadir adalah Presiden Iran, Hassan Rouhani. Iran dan Arab Saudi belakangan ini terlibat dalam ‘persaingan’ untuk merebut pengaruh di kawasan Timur Tengah.

Dan perpecahan di negara-negara Arab itulah yang agaknya membuat Presiden Donald Trump lebih yakin untuk menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

“Donald Trump sadar betul dunia Arab itu lebih terpecah belah, disebabkan oleh Arabspring , perang melawan ISIS, kemudian perang saudara di Suriah, Irak, Libia, dan Yaman. Lalu ada persepsi atas ancaman Iran, sehigga posisi vulnerable (mudah diserang) di negara-negara Arab membuat mereka tidak bisa melepaskan diri dari Amerika Serikat,” jelas Smith Al Hadar.

Dalam konteks tersebutlah, tambah Al Hadar, Presiden Trump berani mengambil langkah yang kontroversial terkait Yerusalem.

“Karena dia tahu posisi Arab khususnya di Timur Tengah itu terlalu lemah untuk mengadapi Amerika Serikat,” katanya. (LA/int/tribun/AK)

 

Saatnya Berpaling dan Tinggalkan AS

Posted on

Saatnya Berpaling dan Tinggalkan AS.jpg

LAPORANAKTUAL.com – Demikian memuakkannya langkah Israel dan Amerika Serikat atas status Jerusalem, perlawanan yang konsisten menjadi keharusan. Selama penindasan dipertontonkan, selama itu pula kita sebagai bangsa yang merdeka harus berani bersikap.

Ketika penindasan itu kian jumawa, kian keras pula kita harus bersuara. Kejumawaan tidak beradab pula yang kini semakin ditunjukkan Israel dan AS. Alih-alih mendengarkan protes dunia, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan yakin bahwa negara-negara lain akan mengikuti langkah sekutu dekatnya untuk memindahkan kedutaan besar mereka ke Jerusalem.

Tidak hanya itu, militer Israel pun mengumumkan pengerahan kekuatan tambahan ke wilayah Tepi Barat. Langkah itu disebut sebagai bagian dari persiapan untuk pengembangan lanjutan. Bualan ataupun sungguhan, Israel telah menggenapkan sikap pelecehannya terhadap upaya perdamaian. AS ibarat ikut menari mengiringinya.

Dengan perkembangan itu, tidak sepantasnya pemerintah berdiam diri atau bertahan dengan kecaman-kecaman yang sudah dilontarkan. Seperti juga melawan api yang kian besar, air harus lebih banyak digelontorkan. Respons atas langkah jumawa baru Israel dan AS sesungguhnya dapat berkaca pada seruan Presiden Arab Inter-Parliamentary Union (AIPU), Nahib Berri, pada Maret lalu.

Berri yang juga juru bicara Parlemen Libanon mengajak negara-negara muslim bersatu dengan menutup kedutaan besar mereka di AS. Saat itu, rencana Presiden AS Donald Trump untuk memindahkan kedutaan ke Jerusalem memang telah terdengar. Berri menekankan bahwa sesungguhnya penutupan kedutaan negara-negara muslim di AS itu pun hanya merupakan langkah minimal karena nyata-nyata AS dan Israel tidak menggubris kecaman-kecaman yang berulang kali disampaikan.

Langkah tegas diplomatik lewat penutupan kedutaan besar itu semestinya pantas menjadi salah satu pilihan yang akan dibahas dalam sidang Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Rabu (13/12) di Istanbul, Turki. Indonesia harus berada di barisan paling depan dalam meninjau ulang hubungan diplomatik dengan AS.

Meski efektivitas penutupan kedutaan masih bisa dipertentangkan, persatuan negara-negara muslim memang mutlak diperlukan. Bahkan sesungguhnya sikap ini merupakan sikap pantas dari negara-negara lainnya tanpa mengacu pada dasar agama. Itu karena perjuangan yang dilakukan sesungguhnya bukan pula dari segi agama semata, melainkan perjuangan kemerdekaan dan hak asasi manusia.

Sikap bersama itu akan menjadi pesan kuat kepada AS dan Israel atas kekuatan persatuan dunia. Terlebih ancaman dari langkah Israel dan AS saat ini bukan tidak mungkin kian menjadi-jadi di masa mendatang. Ketika wilayah suci tiga agama monoteistik saja bisa mereka monopoli, hal-hal hakiki lainnya pun mudah mereka langkahi. (LA/int/mediaindonesia/AK)

Sikap Donald Trump soal Yerusalem Karena Miliarder Israel?

Posted on

Sikap Donald Trump soal Yerusalem Karena Miliarder Israel
Presiden AS, Donald Trump mengunjungi Tembok Ratapan, tempat suci milik kaum Yahudi, di Yerusalem, Senin (22/5). Trump menatap sesaat tembok itu sebelum akhirnya memasukkan sebuah catatan di antara batu-batu monumental tersebut. (AP Photo/Evan Vucci)

LAPORANAKTUAL.com, Washington DC – Pertengahan pekan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Ia juga berencana akan memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Al Quds Al Sharif (bahasa Arab untuk Yerusalem).

Sangat kontroversial memang sikap yang diambil olehnya. Mengingat, belum pernah ada orang nomor satu Negeri Paman Sam yang pernah melakukan pengakuan semacam itu, terutama sejak 1995 ketika AS menetapkan kebijakan tersebut. Namun, Trump memiliki argumentasi tersendiri, bahwa pengakuan itu, tak lain dan tak bukan adalah sebuah “kenyataan diplomatik” atas status pemerintahan Israel.

“Pengakuan ini, tak lain dan tak bukan didasari sebuah kenyataan dan sebuah langkah yang benar untuk dilakukan,” kata Trump pada Rabu lalu.

Melengkapi penjelasan tersebut, Duta Besar AS untuk RI, Joseph Donovan pun berkomentar. “Presiden (Trump) merasa, adalah fakta bahwa banyak lembaga pemerintahan besar Israel berlokasi di Yerusalem,” paparnya usai bertemu Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi Rabu kemarin.

Akan tetapi, menurut sejumlah laporan, langkah yang diambil Trump sebenarnya tidak didasari oleh alasan diplomatik.

Keputusan itu berlandaskan pada motif ideologi dan ekonomi. Demikian seperti dikutip News.com.au, Jumat (8/12/2017).

Media ternama asal Amerika Serikat, Time mengungkap, 10 hari sebelum Donald Trump disumpah sebagai presiden, ia dikabarkan sempat bertemu Sheldon Adelson — orang tajir kelas kakap, pemilik bisnis kasino sekaligus penyokong dana utama untuk Partai Republik dan kelompok pro Israel.

Time melanjutkan, usai Trump bertemu dengan Adelson, bos kasino itu kemudian menelepon temannya Morton A Klein. Ia mengatakan bahwa sang Presiden Terpilih menjadikan pemindahan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai sebuah prioritas.

Klein, simpatisan Israel dan Presiden Zionist Organization of America itu, dilaporkan sangat gembira mendengar kabar tersebut.

Dari laporan tersebut, kini muncul dugaan bahwa sikap yang diambil Presiden Trump terkait Yerusalem pada pekan ini, tak lepas dari pengaruh Adelson dan Klein.

Namun, mengapa kedua orang itu diduga memiliki pengaruh terhadap langkah Trump?

Donor Utama Raksasa

Sheldon Adelson, orang tajir kelas kakap. Ia merupakan penyumbang dana utama bagi Partai Republik — yang menyokong Presiden Donald Trump — dan kelompok pro Israel.

Ia juga dilaporkan sebagai salah satu pendonor dana kampanye Donald Trump kala mengikuti Pilpres AS 2016 lalu.

Jaringan politik Adelson dikabarkan juga cukup signifikan. Bahkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Wakil Presiden AS Mike Pence — yang diketahui sebagai pendukung pro Israel — dilaporkan menjadi sejumlah figur pejabat yang masuk dalam jaringan politik Adelson.

Pengaruh politik semacam itulah yang membuat Adelson mampu memengaruhi Trump untuk memprioritaskan agenda seputar Israel, salah satunya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Negeri Bintang David itu.

Trump, saat masih berstatus sebagai Capres AS dan sebelum mulai menjalin hubungan ekstensif dengan Adelson, mengisyaratkan sikap yang netral dan terlalu memperhatinkan isu Israel.

Ketika ditanya apakah Yerusalem secara utuh merupakan ibu kota Israel, Trump menjawab, “Saya harus bertemu dulu dengan Bibi (Benjamin Netanyahu) terlebih dahulu.”

Namun, ketika persaingan Pilpres AS 2016 semakin ketat dan hubungan dengan Adelson semakin dekat, Trump mulai garang mendukung agenda kelompok pro Israel.

Adelson, selama kurun waktu tersebut, dikabarkan intens menjalin sambungan telepon dengan Trump. Dalam sambungan itu, sang bos kasino intens mendorong isu pro Israel kepada sang capres AS.  (LA/int/liputan6/AK)