Konteks Besar di Balik Penutupan Kompleks Masjid al-Aqsa

Posted on

Laporan Aktual – Setidaknya sejak Jumat 14 Juli, situasi memanas di Kota Tua Jerusalem–wilayah 0,9 kilometer persegi yang terletak persis di tengah Yerusalem Barat dan Timur. Pemicunya tak lain penutupan Kompleks Haram al-Syarif atau yang juga dikenal sebagai Temple Mount, salah satu titik paling sensitif dalam perjalanan pendudukan Israel atas Palestina.

Penutupan akses ke kompleks yang meliputi Masjid al-Aqsa–tempat suci ketiga umat Islam–itu dilakukan Israel menyusul penembakan atas tiga polisi Israel di luar Kompleks oleh tiga pemuda Palestina dari desa Umm Fahm di Yerusalem. Dua polisi Israel dan tiga pemuda Palestina tewas dalam insiden yang terjadi pada Jumat 14 Juli pukul 7 pagi.

Hanya berselang sejam kemudian, otoritas Israel memutuskan untuk menutup akses ke Kompleks Haram dan memasang alat pendeteksi logam (metal detector).Keputusan inilah yang memancing kemarahan warga Palestina di Yerusalem.

Mereka menolak memasuki Kompleks Haram jika harus melalui metal detector. Mereka pun menggelar protes massal dengan salat di luar Kompleks. Jumat 21 Juli, polisi Israel membubarkan paksa protes mereka, sehingga menewaskan tiga Palestina dan melukai ratusan lainnya, demikian dilaporkan media Israel Haaretz.

Nir Hasson dari Haaretz menulis, bagi warga Palestina di Yerusalem, Kompleks Haram al-Syarif lebih dari sekedar simbol keagamaan tapi simbol keterbebasan dari pendudukan Israel. “Setiap upaya apa pun untuk membatasi akses ke sana akan dipandang sebagai ancaman terhadap identitas dan kehidupan mereka,” tulis Hasson.

Sejak Israel berdiri dan memulai pendudukan militer atas tanah Palestina pada 1948, Yerusalem bisa dikatakan tak pernah bisa mereka miliki sepenuhnya. Lepas Perang 1948, Israel memang sukses menganeksasi bagian barat Yerusame sementara bagian timur kota itu dikuasai Yordania.

Namun, baik penguasaan Israel maupun Yordania tak pernah diakui secara legal oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB hingga kini masih menyebut Yerusalem sebagai wilayah pendudukan Israel.

Pascaperang Enam Hari 1967, Yerusalem, termasuk Kota Tua, secara militer jatuh ke tangan Israel. Namun, Israel meneken kesepakatan dengan otoritas Yordania bahwa pengelolaan Kompleks Haram al-Syarif diserahkan kepada sebuah yayasan wakaf di bawah kendali Raja Yordania. Dalam kesepakatan itu, Muslim berhak mengakses Kompleks Haram, termasuk Masjid al-Aqsa, sedangkan Yahudi bisa beribadah di Tembok Ratapan yang terletak di bagian barat dinding Kompleks.

Menurut jurnalis Israel Dan Cohen, meskipun kesepakatan itu masih diakui Israel hingga kini, kelompok ekstremis Israel terus berkampanye agar Pemerintah mereka mengambil kendali penuh atas Kompleks Haram. Terinspirasi dari sejarah biblikal tentang Kuil Sulaiman yang berdiri di atas Kompleks itu lebih dari 3.000 tahun lalu, mereka mempropagandakan pembangunan kembali kuil itu, yang menurut Cohen akan berimplikasi kepada penghancuran situs suci Islam di sana.

Propaganda itu, Cohen bilang, kini menjadi agenda utama proyek Zionis dan sejak tiga dekade terakhir kian mempengaruhi kebijakan arus utama Tel Aviv. Kunjungan Perdana Menteri Ariel Sharon ke Kompleks Haram pada September 2000–lengkap dengan tentara dan helikopter yang meraung-raung di udara–menurut Cohen bagian dari propaganda provokatif tersebut. Provokasi Sharon kemudian memicu gelombang perlawanan masif Palestina, yang dikenal dengan Intifada Kedua. Provokasi terakhir adalah rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membangun terowongan-terowongan khusus peziarah Yahudi di bawah Kompleks Haram.

Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Real News Network, Selasa 18 Juli, Cohen menyebut Gerakan Temple Mount sebagai nukleus dari propaganda tersebut. Lalu, apa dan siapa di balik gerakan ini?

Gerakan ini menjadi payung bagi kelompok-kelompok ekstremis sayap kanan Israel yang memiliki satu keyakinan yang sama: mewujudkan nubuat biblikal untuk mendirikan kembali Kuil Sulaiman di Kompleks Haram al-Syarif. Menurut Cohen, keyakinan itu menyimpang dari ajaran Yahudi Ortodoks. Yang terakhir justru melarang umat Yahudi mendirikan kembali kuil itu kecuali melalui intervensi supernatural. “(bagi Yahudi Ortodoks), Kuil itu akan turun dengan sendirinya dari langit,” kata Cohen yang juga sutradara film dokumenter “Killing Gaza”.

Namun, sejak 120 tahun silam, Zionisme meyakini bahwa sudah saatnya mereka mengambil alih peran Tuhan dan mendirikan kembali Kuil itu. Nah, ide inilah yang menurut Cohen perlahan tapi pasti mulai merasuki pikiran warga Israel dan kebijakan arus utama Tel Aviv.

Cohen mendaftar sejumlah pernyataan pejabat Israel yang intinya menyerukan pengambilalihan total Kompleks Haram, pendirian kembali Kuil, dan bahkan pengusiran warga Palestina dari Yerusalem. Mereka antara lain sejumlah anggota parlemen seperti Nissan Slomiansky dan Motiv Yegev serta Wakil Menteri Pertahanan Eli Ben-Dahan.

Menurut pengajar Perbandingan Agama pada Universitas Tel Aviv, Tomer Persico, setidaknya separuh kader Likud, partai berkuasa di Israel, mendukung Gerakan Temple Mount. Meskipun Yahudi Ortodoks menentang ide gerakan ini, terdapat sejumlah figur rabi yang justru aktif mempropagandakannya.

Di antara mereka adalah rabi kelahiran Amerika Serikat Yehuda Glick. Pada 2014, Glick selamat dari percobaan pembunuhan oleh seorang pemuda Palestina usai menyampaikan ceramah provokatif di Menachem Begin Heritage Center. Mutaz Hijazi, pemuda Palestina yang dituduh mencoba membunuh Glick, ditembak mati polisi Israel di jalanan tanpa proses peradilan.

Insiden tersebut memicu bentrokan antara warga desa Abu Tor, kampung Hijazi, dengan polisi Israel. Sementara pada saat yang sama, Gerakan Temple of Mount berunjuk rasa sambil menyerukan pendirian kuil dan pengusiran Palestina dari Yerusalem.

Menurut catatan Cohen, Pemerintah di Tel Aviv tak sungkan mendukung gerakan ekstremis itu. Nyaris tiap hari, pendukung gerakan itu mendatangi Kompleks Haram dengan pengawalan ketat militer dan polisi Israel sambil meneriakkan seruan provokatif. Cohen juga mengungkap anggaran negara yang mengalir ke gerakan itu, di antaranya 412 ribu shekel atau 1,5 miliar rupiah setiap tahun dari Kementerian Kebudayaan dan 189 ribu shekel atau 705 juta rupiah dari Kementerian Pendidikan.

Pendukung gerakan tersebut juga datang dari ekstremis Kristen di Amerika–kerap diistilahkan dengan Kristen Zionis. Salah satu tokoh utamanya adalah Pastor John Hagee. Direktur Eksekutif Christians United for Israel itu percaya bahwa Kedatangan Kedua Yesus tak akan terjadi sebelum kuil Yahudi dibangun kembali dan situs umat Islam dihancurkan.

Meskipun banyak orang di Amerika tak mereken Hagee karena dia doyan mengeluarkan penyataan rasis, Hagee menjadi tokoh favorit lobi Zionis di Amerika. Ia kerap diundang ke acara Anti-Defamation League dan American Israel Public Affairs Committee atau AIPAC–dua lembaga lobi Zionis terbesar di negeri Abang Sam.

Cohen berpandangan, apa yang terjadi di sekitar Kompleks Haram saat ini tak bisa dilepaskan dari konteks besar tersebut. Propaganda provokatif Gerakan Temple Mount awalnya bertujuan memancing reaksi Palestina, sehingga Israel bakal memiliki dalih untuk mengubah status quo di Kompleks Haram al-Syarif.

Strategi serupa sukses digelar atas Kompleks Haram Ibrahim di Hebron, Tepi Barat, atau yang juga dikenal dengan Gua Leluhur oleh Yahudi. Pada 1994, setelah pembantaian atas jemaah Masjid al-Khalil oleh pemukim Yahudi asal Amerika, Baruch Goldstein, yang kemudian memicu reaksi Palestina, orotitas Israel memutuskan membagi kompleks itu menjadi dua bagian: satu untuk Yahudi dan yang lain untuk Muslim. “Jika saat ini berkunjung ke Kota Tua Hebron, Anda akan menyaksikan bentuk paling mengejutkan dari kebijakan apartheid Israel,” ujar Dan Cohen.

Sumber : indopress.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s